Selama 43 Tahun, Kritik Seni Rupa Indonesia Masih Sebatas “Pengantar”

Portal Teater – Ketika kembali ke Indonesia setelah menempuh pendidikan doktoralnya di Prancis tahun 1981, Sanento Yuliman mulai aktif menulis kritik seni rupa di pelbagai media massa nasional, antara lain Tempo, Kompas dan Pikiran Rakyat.

Melalui tulisan-tulisannya itu, penulis kelahiran Jatiwalang, Cilacap, Jawa Tengah, 14 Juli 1941 itu dikenal sebagai kritikus seni rupa yang memiliki pandangan yang khas terhadap gejala-gejala seni rupa di Indonesia.

Berkat gagasan dan warna tulisannya yang bermutu, ia dianugerahi penghargaan Anugerah Adam Malik sebagai kritikus seni rupa terbaik.

Pasca kematiannya pada 14 Mei 1992, perkembangan tradisi kritik seni rupa Indonesia tidak begitu menggembirakan. Kita seolah kehilangan ‘jiwa’ kepenulisan kritik seni rupa.

Masih ada beberapa penulis lain yang masih aktif menulis sampai sekarang, misalnya Bambang Bujono. Penulis senior ini aktif menulis di Majalah Tempo.

Namun demikian, Hendro Wiyanto, kurator pameran “Mengingat-ingat Sanento Yuliman” yang digagas Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta mengatakan, tradisi kritik seni rupa Indonesia masih sebatas “pengantar”.

Pernyataan ini merujuk pada tradisi kritik seni rupa yang berjalan tidak berkasinambungan dan hampir tidak ada regenerasi kritikus yang baik.

Sejak terakhir Sanento menulis buku berjudul “Seni Lukis Indonesia Baru: Sebuah Pengantar” tahun 1976, tidak ada lagi buku atau riset yang mendalam terhadap perkembangan seni rupa di Indonesia.

Itu berarti, kurang lebih selama 43 tahun, kritik seni rupa Indonesia masih sebatas pengantar dan belum memiliki isi atau pembahasan yang mendalam tentang seni rupa.

Sanento, meski aktif menulis setelah kepulangannya dari Prancis pun tidak lagi melanjutkan proyek penelitiannya itu.

Menjadi dosen Seni Rupa pada Institut Teknologi Bandung (ITB) dan bergiat di beberapa komunitas agaknya cukup menyita perhatian kritikus terbaik seni rupa yang pernah dimiliki Indonesia itu.

Pada tahun 1982 Sanento pernah menggagas berdirinya Kelompok Penelitian Komunikasi Gambar (KPKG) bersama Haryadi Suadi, T. Sutanto dan Priyanto Sunarto, tapi tidak bertahan dan akhirnya bubar.

“Setelah menulis tahun 1976, ketika pulang dari Prancis, Sanento tidak lagi menulis. Dia mulai sibuk dengan mengajar di ITB mulai tahun 1981. Kemudian, mulai aktif juga menulis esai dan kritik seni rupa di media,” tutur Hendro pada pembukaan pameran di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (11/12).

Hendro, yang juga akan menjadi kurator pada pameran Ugo Untoro pada akhir tahun ini mengakui bahwa memang banyak kendala yang yang dihadapi para penulis kritik seni rupa untuk mendalami perkembangan seni rupa Indonesia.

Salah satunya adalah belum banyak penulis kritik seni rupa yang sungguh-sungguh memahami sejarah seni rupa. Dokumentasi atau pendataan yang lengkap pun belum ada. Yang ada hanya berupa arsip di DKJ.

Kendala lainnya, kata Hendro, adalah keterbatasan biaya bagi para penulis untuk melakukan kajian terhadap seni rupa Indonesia. Sebab biayanya cukup besar.

“Saya hanya bisa berharap beberapa tahun ke depan ada buku tentang kritik seni rupa yang lebih memadai. Ada satu-dua teman yang sedang studi tentang itu dan saya berharap kalau kurang ya, kita lanjutkan lagi,” pungkasnya.

Kritik vs Laporan Jurnalistik

Penulisan seni rupa di Indonesia memang sangat produktif. Banyak media massa yang menulis pelbagai kegiatan pameran seni rupa.

Namun menurut Hendro, harus dibedakan antara kritik seni dan karya jurnalistik.

Baginya, tulisan di media bukanlah murni jenis kritik seni rupa, tapi merupakan produk jurnalistik yang disampaikan dengan lebih menekankan unsur informasi atau pelaporan.

Majalah Tempo, misalnya, masih mempertahankan tradisi penulisan kritik seni rupa. Misalnya dengan menulis lebih panjang, dan tidak semata-mata berupa laporan.

“Tulisan itu mengandung kritik tapi masih lebih menonjolkan pelaporan. Itu bukannya tidak penting, tapi juga penting untuk pencatatan atau pendataan,” ungkapnya.

Karena itu, kurator lepas itu berharap setidaknya kita mesti memiliki satu media publikasi khusus yang memuat kritik-kritik di wilayah kesenian.

Konferensi pers pembukaan pameran "Mengingat-ingat Sanento Yuliman" di Galeri Cipta II TIM Jakarta. -Dok. Gelar Agryano/DKJ⁣.
Konferensi pers pembukaan pameran “Mengingat-ingat Sanento Yuliman” di Galeri Cipta II TIM Jakarta. -Dok. Gelar Agryano/DKJ⁣.

Catatan Kuratorial sebagai Kritik

Medium kritik terhadap karya seni tidak terbatas pada satu domain tunggal. Ada banyak jenis tulisan untuk menyampaikan apresiasi atau kritik.

Lulusan sarjana seni rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta itu mengatakan, wilayah kritik seni juga dapat kita lihat dalam catatan atau pengantar kuratorial sebuah pameran seni rupa.

Di sana termuat deskripsi karya sang seniman secara rinci, baik dari aspek gagasan maupun proses-proses yang dilewati seniman.

“Itu kan sebuah genre kritik juga. Nah saya kira peran itu sedikit diambil alih juga karena misal kalau pengantar pameran menulis dalam 10 halaman,” ujarnya.

Alumnus Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta itu menjelaskan, ada irisan antara catatan kuratorial dan kritik seni.

Di mana kritik seni rupa menulis berdasarkan pengalaman melihat langsung sebuah karya pada sebuah pameran. Artinya, karya tersebut sudah jadi.

Sementara catatan kuratorial lebih merupakan tulisan yang lebih menekankan bagaimana gagasan yang dibawa seniman, atau proses pembuatan karya. Biasanya dilakukan sebelum pameran dimulai.

“Pada akhirnya, kedua wilayah ini berhadapan dengan karya juga,” paparnya.

Untuk diketahui, pameran maestro Indonesia bertajuk “Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)” berlangsung sepanjang 12 Desember-15 Januari 2020.

Pameran ini akan dibuka pada Rabu (11/12) pukul 19.30 WIB di Galeri Cipta II, TIM Jakarta, oleh Goenawan Mohamad dan dimeriahkan oleh penampilan Rebecca Kezia dan Sri Hanuraga.

Selain dikurasi oleh Hendro, pameran ini juga menghadirkan kurator muda yang adalah putra dari Sanento sendiri, Danuh Tyas Pradipta.*

Baca Juga

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Para Penyair Robot, Ekosistem Penulis dan Tak Ada Apa-apa

Portal Teater - Sebuah unggahan Instagram milik akun @balingehits memunculkan performance berbeda tentang pisang, bapak dan ibu. Kata ditempatkan di atas bidang IG putih...

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Terkini

Para Penyair Robot, Ekosistem Penulis dan Tak Ada Apa-apa

Portal Teater - Sebuah unggahan Instagram milik akun @balingehits memunculkan performance berbeda tentang pisang, bapak dan ibu. Kata ditempatkan di atas bidang IG putih...

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Buku Puisi Sosiawan Leak Berbasis Media 3 in 1 Siap Diterbitkan

Portal Teater - Buku puisi "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami: Kumpulan Puisi Puasa di Masa Korona" karya penyair multitalenta Sosiawan Leak berbasis media 3...