Teater Karantina #4: Corona dan “Rumah Frankenstein” dalam Era Post-truth

Portal Teater – Di kota-kota besar konsep rumah kian bergeser ketika Orde Baru mulai memperkenalkan kita dengan Perumnas (Perumahan Nasional), sebuah bentuk kredit perumahan yang diantaranya dilakukan oleh BTN (Bank Tabungan Negara).

Pengertian “rumah” bergeser menjadi “tempat tinggal”. Perubahan konsep ini kian artikulatif pada bentuk-bentuk perumahan cluster untuk rumah kos maupun kontrakan, rusun (rumah susun) dan kemudian apartemen.

Setiap dibangun perumahan baru, jalan tol atau fasilitas publik lainnya, harga tanah di sekitarnya umumnya cenderung melonjak.

Rumah yang sebelumnya didefinisikan melalui relasinya dengan tetangga, kampung dan sumber kehidupan (sungai, laut, hutan, ladang) yang membentuk tradisi maupun budaya bermukim, kian menipis.

Tempat tinggal hanya berelasi antara warga dengan negara melalui Kartu Keluarga, KTP, dan Pajak Bumi Bangunan, kemudian dengan masalah sampah dan keamanan.

Ilustrasi Rumah Susun Jatinegara, Jakarta. -Dok. megapolitan.okezone.com.
Ilustrasi Rumah Susun Jatinegara, Jakarta. -Dok. megapolitan.okezone.com.

Pengertian tetangga baru muncul ketika kenyamanan terganggu: listrik mati, air mati, perampokan, kebakaran, banjir atau gempa.

Hubungan-hubungan sosial-ekonomi antara rumah dengan kampung atau tetangga juga diambil alih oleh bentuk-bentuk lembaga keuangan masa kini (bank, asuransi, saham, valuta asing, berbagai bentuk investasi lainnya), terutama setelah munculnya ATM dan internet.

Perubahan ini mungkin tidak terlalu teramati, karena rumah masih memiliki tipologi yang beberapa fungsinya masih berlanjut: pintu, jendela, ruang tamu, kamar tidur, dapur dan kamar mandi, walau sebagian besar ukuran bangunannya kian minimalis.

Tetapi “halaman belakang” maupun “pintu belakang” yang sebelumnya memiliki fungsi khas dalam budaya bermukim kita, hampir punah. Rumah kini lebih banyak dibangun tanpa halaman belakang.

“Pintu belakang” di antaranya merupakan representasi relasi-relasi informal yang dibedakan dengan “pintu depan” yang lebih formal (lihat: Jan Newberry, Back Door Java: Negara, Rumah Tangga, dan Kampung di Keluarga Jawa, Buku Obor, 2006).

Relasi dalam sistem kekerabatan diam-diam juga mulai berubah. Joseph Campbell menyebutnya sebagai “migrasi tradisi” (Campbell: Hero With a Thousand Faces, Pantheon Books, edisi 3, 2008).

Kita yang sebelumnya memliki kebiasaan bertandang ke rumah teman untuk ngobrol, bahkan menginap, kian bergeser ke warung-warung, kafe maupun mall, terutama di kota-kota besar.

Rumah sebagai pusat produksi dan dapur diambil alih oleh industri dan kuliner. Produk-produk elektronik seperti radio, TV, kulkas, mesin cuci, AC, dan berbagai alat elektronik lainnya membuat rumah juga kian kehilangan relasi naturalnya dengan lingkungan alam, budaya, lingkungan kerja, maupun kondisi-kondisi sosial-geografi.

Rumah Frankeinstein

Ketika wabah Corona terjadi, dan secara global kita mengalami ruang yang sama, yaitu “diam di rumah saja”, tiba-tiba kita harus membuat tikungan tajam untuk “kembali ke rumah” dengan banyak relasi produksi yang sebelumnya sudah kita tinggalkan: rumah sebagai pusat dunia (aktivitas dapur, produksi dan distribusi).

Perubahan ini terjadi dalam bentuk yang paling ekstrem: rumah sebagai unit yang diasingkan dari dunia luar (karena dunia luar tiba-tiba kita pahami sebagai ladang inkubasi virus).

Puisi-puisi Goenawan Monoharto, penyair dari Makassar, dalam kumpulan “Dansa Bersama Corona” merupakan salah satu rekaman dari berbagai hal yang diamati di sekitar perubahan karena Corona:

jadi seperti kawanku asia bermasker kain hijau muda
gambar kembang-kembang
tinggal di rumah bersama orang-orang dicinta
berjemur pagi matahari
mengasup makanan dengan takaran gizi nyaris sempurna

tak suka ngemil barang promosi aplikasi ojol
minum vitamin bersama rempah-rempah lokal
sering cuci tangan pakai luxor lokal cap balla batu
metanol 70 persen

berjarak mesti semeteran duduk sunyi
angkat kaki baca gratis sepuluh koran online
phuii tak mau diajak keluar bergaul
apalagi ditemui di rumahnya
(Goenawan Monoharto, puisi “Asia”)

Apakah Corona membuat kita kembali memasuki rumah sebagai titik awal kita membangun peradaban? Atau, apakah Corona mengubah rumah menjadi kandang, ruang isolasi atau penjara buat diri kita sendiri?

Corona mengubah realitas paling vital dalam kehidupan kita: relasi, produksi dan distribusi di bawah todongan “kian tipisnya batas kehidupan dan kematian” yang kejam dan mencekam.

Hari ini, misalnya, 23 Mei 2020, data Corona di Indonesia tercatat: 21.745 orang positif, 5.249 orang sembuh, 1.351 meninggal (siaran CNN Indonesia). Data seperti ini setiap hari kita terima seperti teror yang bermain antara ancaman dan harapan.

Perubahan ekstrem ini berlangsung dalam era “Revolusi Industri 4.0” yang membawa ideologi “post-truth”.

Realitas dan kebenaran (seolah-olah) di-convert sebagai fiksi baru dalam ekosistem big-data maupun teknologi digital.

Perubahan ini sangat liar untuk memicu kegilaan dalam perspektif Frankenstein, Serat Kalatida, Metamorfosis Kafka maupun Caligula dalam dunia sastra.

Pertunjukan adaptasi "Metamorfosis Kafka" di London Lyric Hammersmith, 2013. -Dok. Tristram Kenton/Guardian.
Pertunjukan adaptasi “Metamorfosis Kafka” di London Lyric Hammersmith, 2013. -Dok. Tristram Kenton/Guardian.

Gregor Samsa, tokoh utama dalam Metamorphosis karya Kafka, memantulkan metafor gelap dari bagaimana perubahan yang dibawa modernisasi dialami.

Berubahnya pola-pola relasi produksi dari kultur rumah ke kultur kantor, di mana Gregor Samsa bekerja berkeliling menjual produk-produk dari kantor tempatnya bekerja sekaligus sebagai tukang tagih.

Setiap pagi harus meninggalkan rumah, tidak boleh telat naik kereta, ketakutan oleh teguran Bos, dan berhubungan dengan orang-orang yang berbeda sepanjang hari, namun kehidupan keluarganya tetap miskin.

Semua ini dialaminya seperti kutukan dari dunia modern. Hingga suatu pagi ia menemukan dirinya berubah menjadi serangga; seekor kumbang (Dung-Beetle) yang bergulingan bersama taiknya sendiri.

Novel pendek ini terbit tahun 1915, diapit oleh dua wabah global “Flu Rusia” (1889) dan “Flu Spanyol” (1918), berlangsung dalam lingkungan Perang Dunia I (1914-1918).

Tokoh Gregor Samsa mengingatkan kita pada tokoh Woyzeck dalam naskah drama Woyzeck karya Georg Büchner (1836).

Naskah ini merupakan rekaman bagaimana modernisme menaklukan masyarakat untuk berada dalam sebuah sistem baru yang modern di Eropa. Agen utama dari modernisme ini adalah militer, sains (kedokteran) dan seni.

Woyzeck merupakan tokoh autis yang lugu, tidak bisa ditaklukkan untuk menjadi modern, kemudian dibuli oleh tokoh-tokoh militer maupun dokter tempatnya bekerja sebagai bawahan dalam sebuah barak militer. Istrinya menjadi objek pelecehan teman-teman kerjanya sendiri.

Pertunjukan "Woyzeck Thomas Pickles" surrounded by the community ensemble. ©Graeme Braidwood. -Dok. dancetabs.com.
Pertunjukan “Woyzeck Thomas Pickles” surrounded by the community ensemble. ©Graeme Braidwood. -Dok. dancetabs.com.

Naskah Woyzeck terbit tidak terlalu jauh dengan novel Frankenstein karya Mary Shelley yang terbit di London, 1818, tiga tahun setelah meletusnya gunung Tambora di Sumbawa.

Usia Mary Shelley baru 18 tahun ketika gunung Tambora meletus. Langit tanpa matahari yang panjang hampir setahun lebih tertutup debu letusan gunung, memunculkan mimpi-mimpi buruk, ketakutan dan cerita-cerita horor.

Waktu itu Perang Napoleon juga berakhir (1803-1815), dan bisa diduga terkait erat dengan medan perang yang berubah dengan datangnya musim dingin mematikan akibat letusan Tambora.

Novel fiksi ilmiah pertama ini berkisah tentang bagaimana Victor Frankenstein menciptakan makhluk artifisial pertama, robot yang dilengkapi kecerdasan buatan hingga bisa menguasai bahasa manusia.

Namun karena sosoknya menakutkan, makhluk artifisial ini merasa tidak dipahami dan disingkirkan dari kehidupan manusia, lalu ia berubah menjadi pembunuh.

Frankenstein merupakan ikon teknologi modern, dan kini merupakan produk pertama dari korpus post-truth yang mengalami pencanggihan dalam realitas maupun seluruh operasional teknologi big-data.

Tahun 1910, Edison Studio Amerika membuat film Frankenstein pertama, 1910, yang disutradarai J. Searle Dawley.

Film "Frankenstein" pertama, 1910. -Dok. commons.wikimedia.org.
Film “Frankenstein” pertama, 1910. -Dok. commons.wikimedia.org.

Tidak terlalu jauh dari Mary Shelley, ketika Tambora meletus, Rangga Warsita baru berusia 13 tahun.

Ia tidak hanya mengalami bencana alam pada masanya, tetapi juga perubahan yang dibawa oleh Kolonialisme, dan menjelang pecahnya Perang Diponegoro (1825-1830). Rangga Warsita kemudian melahirkan kumpulan puisi “Serat Kalitida”.

Dalam karya ini Rangga Warsita menyebut zamannya sebagai “zaman terkutuk”, “zaman kegelapan” atau “zaman edan” (yang memang gelap akibat debu letusan Tambora dan Perang Diponegoro), bukan proses datangnya zaman modern yang berlangsung dalam lingkungan kolonial Hindia Belanda.

Mungkin juga istilah modern belum ada waktu itu di Jawa. Kultur mistis kita yang kuat membuat kita lebih tergoda memposisikan karya Rangga Warsita ini sebagai “ramalan”, dan menjadi salah satu aktivitas performatifitas setiap terjadi bencana maupun perubahan kekuasaan.

Kalau dari tangan Rangga Warsita lahir “Serat Kalitida” dan berhadapan dengan Perang Diponegoro, dari tangan Mary Shelley lahir novel Frankenstein dan berakhirnya Perang Napoleon.

Yang satu bicara tentang zaman kegelapan, yang lainnya tentang ciptaan manusia yang gelap dan menakutkan. (Terima kasih untuk Peri Sandi yang sempat ngobrol soal Frankenstein lewat WA Grup Pekan Teater Nasional 2019).

Lukisan Raden Saleh tentang penangkapan Diponegoro (1957) dengan visi yang berbeda dengan lukisan Nicolaas Pieneman (1835). Yang satu dengan visi perlawanan, satunya lagi penyerahan, serta jeda tahun pembuatan yang jauh. -Dok. commons.wikimedia.org.
Lukisan Raden Saleh tentang penangkapan Diponegoro (1957) dengan visi yang berbeda dengan lukisan Nicolaas Pieneman (1835). Yang satu dengan visi perlawanan, satunya lagi penyerahan, serta jeda tahun pembuatan yang jauh. -Dok. commons.wikimedia.org.

Dalam suasana fasisme Nazi-Hitler dan Perang Dunia II, Albert Camus menerbitkan Caligula (1944). Di Indonesia naskah ini populer setelah diterjemahkan oleh Asrul Sani.

Teater Kecil dengan sutradara Arifin C. Noer, pernah mementaskannya di Teater Tertutup, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Januari 1970.

Caligula memainkan logika bagaimana kekuasaan bekerja dalam kerangka ontologis dan mistifikasi sekaligus.

Dalam satu dialognya, Caligula, kaisar yang gokil ini berkata: “Jika aku tidak membunuh, aku merasa kesunyian. Mereka yang hidup tidak bisa meramaikan duniaku. Aku baru merasa tidak kesunyian jika ditemani oleh orang-orang yang telah aku bunuh. Hanya mereka yang telah mati yang bisa menghadirkan kenyataan padaku.”

Dialog yang memperlihatkan kerja objektivikasi dari tatapan kekuasaan atas yang dikuasainya, sekaligus mistifikasi antara kenyataan dan kematian. Kenyataan dialami sebagai korpus keberlaluan dan mengubahnya sebagai arsip.

Teater Karantina #4: Corona dan "Rumah Frankenstein" dalam Era Post-truth
Salah satu pertunjukan “Caligula”, sutradara Antonio Latella. -Dok. theater-basel.ch.

Frankenstein, Serat Kalatida, Kafka maupun Caligula dalam dunia sastra yang berkelindan antara wabah, bencana alam dan perang memberikan pantulan tentang bagaimana “hari esok” dipahami.

Corona alih-alih membawa Post-truth ke dalam rumah sebagai “rumah Frankenstein” yang kita alami sekarang ini.

Rumah yang dipreteli dari teritori sosial maupun geografinya. Rumah yang juga menjadi artifisial karena dua hal: kehilangan relasi eksternalnya dan penghuninya berelasi melalui teknologi digital.

Order “dirumahsaja”

Teknologi big-data dalam era post-truth seolah-olah merupakan “konspirasi” berbahaya yang dilakukan melalui wabah Corona.

Kita “dipaksa” masuk untuk tinggal dan “celingak-celinguk” dalam alam post-truth yang serba baru dan masih asing untuk kebanyakan orang.

Pembacaan liar seperti ini jejaknya sudah ditinggalkan pada korpus sastra antara Frankenstein dan Caligula.

Sebuah revolusi atas kenyataan dan kebenaran sekaligus, dan kita belum tahu datang dari mana mau kemana.

Gejala ini di antaranya mulai muncul lewat berbagai game virtual, aplikasi-aplikasi media sosial, operasi android, maupun ketika transaksi keuangan mulai bergeser ke elektronik dan pasar bergeser ke startup, kantor virtual dan bisnis online lainnya.

Kapitalisasi seolah-olah mendapatkan modal dan lahan tidak terbatas lagi melalui ekosistem big-data bersama ideologi post-truth.

Wacana ini sebelumnya sudah dibuka dalam memandang budaya sebagai industri maupun ekonomi kreatif: gagasan dilihat sebagai ladang tidak berbatas untuk digali dibandingkan dengan pertambangan konvensional yang terbatas dan memunculkan banyak konflik (lih. John Howkins, The Creative Economy, How People Make Money From Ideas, 2001).

Berbagai platform kini bermunculan dengan basis yang sama untuk duduk tenang dalam rumah, dan menikmati berbagai fasilitas online.

Daniel Owen, seorang penerjemah sastra dan penyair New York yang kini menetap di Yogyakarta, membuat puisi seperti seorang “peretas dalam bahasa” di sekitar situasi ini:

jangan keluar rumah
jongkok saja sepanjang hari
di pojok kamarmu
tunggu pesan
yang layak
(Daniel Owen, “Kesepian Enak” dari kumpulan “Celingak-Celinguk”, manuskrip 2020).

Puisi yang mengingatkan saya pada bentuk peretasan lain dalam bahasa pada salah satu puisi Eugen Gomringer (dikenal sebagai bapak puisi kongret) dalam suasana “language game” Wittgenstein.

Yaitu puisi “kein fehler im system” terbit dalam tahun yang sama dengan buku Philosphical Investigations (1953) karya Wittgenstein yang dianggap sebagai salah satu titik-tolak filsafat bahasa bersama buku pertamanya (Tractacus Logico-Philosophicus, 1922).

Video mengenai puisi ini juga bisa dilihat di link Youtube: https://youtu.be/SwgxMEJEYwE.

Platform #dirumahsaja umumnya menggunakan fasilitas Youtube maupun live streaming melalui IG live atau aplikasi Zoom. Isinya: pertunjukan musik, teater, tari, lecture, master class dan lain-lain.

Sebagian memang masih memindahkan kebiasaan membuat pertunjukan berdasarkan tempat sebagai ruang fisik, ke dunia online sebagai ruang digital. Belum melibatkan teknologi digital sebagai ekosistem maupun medium yang digunakan.

Perpindahan yang memang pada tahap awal harus melalui perubahan “sudut pandang penonton” ke “sudut pandang kamera” dengan berbagai fasilitas maupun perbedaannya dalam memposisikan ruang dan waktu; sambil membayangkan penonton bersama-sama menyaksikan hal yang sama, namun sendiri-sendiri di hadapan monitor laptop maupun HP masing-masing.

Berbagai sudut pandang di sekitar Revolusi Industri 4.0 dan Corona ditayangkan dalam platform online, di antaranya dari Martin Suryajaya maupun Hizkia Yosie Polimpung melalui IndoprogressTV.

Salah satu yang menjadi viral (ditonton 8 juta viewer) adalah video wawancara (Plandemic) dengan Judy Mikovits, yang kemudian dihapus dari media sosial.

Video ini beriringan dengan terbitnya buku “Plague of Corruption” karya Judy Mikovits bersama Kent Heckenlively yang menyoroti korupsi dalam dunia sains di Amerika di sekitar Corona.

Sebagian platform #dirumahsaja didanai pemerintah, seperti platform “dirumahsaja” maupun “budayasaya” yang didanai Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sebagian lainnya dibiayai kelompoknya sendiri, seperti Gudskul, Majelis Dramaturgi dengan program “Senin-Kamis”, Rumah Banjarsari, Studio Klempisan, dan berbagai platform lain yang setiap hari bermunculan di IG-live.

Sebagian besar platform ini masih berpusat di Jawa. Rokateater di antara yang kembali mempertanyakan “apa itu rumah” dengan meluncurkan majalah digital, zine Sandi/Wara, juga membuat live streaming melalui Zoom dengan topik yang sama.

Bahkan beberapa program TV, terutama komedi, juga nyebrang dan membuat siaran langsung melalui Youtube maupun IG-live.

Kita tidak lagi memproduksi dan menjual fiksi. Sebab semuanya mulai kita perlakukan sebagai fiksi dengan ritual baru: masker, hand sanitizer, alat mengukur suhu badan dan sebuah new order: “dirumahsaja”.

*Afrizal Malna adalah Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Selain dikenal sebagai pengamat dan penulis teater, Afrizal juga adalah salah satu penyair yang karya-karyanya populer di jagad sastra Indonesia. Puisi-puisinya memberikan tapal batas spesifik untuk membaca perkembangan sastra di Indonesia.

Baca Juga

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Terkini

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Buku Puisi Sosiawan Leak Berbasis Media 3 in 1 Siap Diterbitkan

Portal Teater - Buku puisi "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami: Kumpulan Puisi Puasa di Masa Korona" karya penyair multitalenta Sosiawan Leak berbasis media 3...

Rudolf Puspa: “Abdi Abadi” adalah sebuah Tanggung Jawab

Portal Teater - Berdiri di panggung Graha Bhakti Budaya di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM), pada 26 Desember 2016 ketika menerima piagam...