April 21, 2021

Portal Teater

Periksa halaman ini untuk berita utama terkini Indonesia,

Kaleidoskop 2020: 9 hujan meteor tahun ini

KOMPAS.comHujan meteor Ini adalah salah satu peristiwa selestial yang paling ditunggu-tunggu.

Pada tahun 2020 terdapat 9 event Hujan meteor Dan bisa didapatkan di Indonesia.

Sebagian besar adalah hujan meteor tahunan. Berikut daftar hujan meteor yang akan terjadi di Indonesia sepanjang tahun 2020.

Hujan meteor pertama yang terjadi pada tahun 2020 adalah hujan meteor kuadran. Hujan meteor tersebut akan berlangsung pada 28 Desember 2019 dan berakhir pada 12 Januari 2020.

Dilaporkan Compass.com, 3 Januari 2020, Hujan meteor mencapai puncaknya pada 4 Januari pukul 22:20 WIB.

Namun, ini hanya berlangsung beberapa jam dan bisa dilihat dari pukul 01.00 hingga dini hari.

Menurut astronom amatir Marufin Sudipio, intensitas meteorit maksimal 120, meski di wilayah Indonesia hanya bisa 50 meteor per jam.

Baca juga: Bersiaplah, saksikan puncak hujan meteor kuadran Sabtu pagi

2. Hujan meteor Liritz

Dilaporkan Compass.com, 31 Maret 2020, Liritz adalah hujan meteor biasa yang menghasilkan sekitar 20 meteor / jam pada puncaknya.

Meteorit tersebut terbuat dari partikel debu yang ditinggalkan oleh komet C / 1861 G1 Thatcher, yang ditemukan pada tahun 1861.

Hujan meteor Liritz terjadi setiap tahun mulai 16-25 April 2020. Tahun ini, puncaknya akan terjadi pada 22 April (malam) dan 23 April (pagi).

Galaksi Lyra hujan meteor, tetapi bisa muncul di mana saja di langit, kata Dr. Emanuel Chucking Mambuni, kepala Divisi Distribusi Divisi Ilmu Antariksa (Fusainza).

Meteorit ini terkadang bisa bertahan selama beberapa detik dengan jejak debu yang cerah.

Baca juga: Nanti malam, lihat puncak hujan meteor Lirits di langit Indonesia

3. Hujan meteor Etta Aquarius

Hujan meteor Etta Aquarius terjadi pada 4-5 Mei. Menurut astronom amatir Marufin Sudipio, Compass.com, 1 Mei 2020 Hujan meteor dari Belahan Bumi Selatan, Termasuk Indonesia.

Hujan meteor berasal dari debu halus yang dilepaskan oleh komet Holly.

Fenomena ini bisa dilihat di mana saja di Indonesia, dengan cuaca yang mendukung dalam gelap.

READ  Hebatnya, jamur jenis baru ini mengubah lalat menjadi zombie

Hujan meteor ini terjadi setiap tahun, mulai 19 April hingga 28 Mei.

Sedangkan puncak pada tahun 2020 terjadi pada 4-5 Mei dengan intensitas maksimum hingga 60 meteor per jam. Mencapai 120 meteor dengan intensitas tinggi.

Hujan meteor dengan intensitas maksimum 60 meteor per jam sebagian besar terlihat di belahan bumi selatan. Untuk belahan bumi utara, intensitasnya hanya bisa mencapai 30 meteor per jam.

Baca juga: Malam ini, klimaks hujan meteor Etta Aquarius menghiasi langit Indonesia

SHUTTERSTOCK / SKY2020 Deskripsi hujan meteor

4. Hujan meteor pudit

Dilaporkan Compass.com, 27 Juni 2020, Hujan meteor ini datang atau pergi dari galaksi Boots. Galaksi terbit pada siang hari dan tenggelam pada jam 9 malam.

Rome Priyatikanto, Peneliti Pusat Nasional Ilmu Penerbangan dan Antariksa (LABAN), menjelaskan intensitas hujan meteor Budit memang tidak terlalu tinggi, namun masih bisa disaksikan.

“Jadi setelah matahari terbenam, saat langit gelap setelah jam 7 malam, lihat sekitar 30 derajat barat laut,” kata Rorom saat dihubungi. Compass.com, Sabtu (27/6/2020).

Untuk melihat hujan meteor ini, Anda bisa mengalihkan pandangan Anda ke bintang Arika. Bintang itu berwarna biru putih. Hujan meteor ini akan disaksikan setiap tahun.

Baca juga: Malam ini puncak hujan meteor Budit, bagaimana cara melihatnya?

5. Hujan meteor Perseid

Compass.com, 11 Agustus 17 Juli hingga 24 Agustus hujan meteor Perseid diumumkan. Sedangkan puncaknya terjadi pada 12-13 Agustus.

Emanuel Singh, kepala divisi difusi di Laban Space Science Center, menjelaskan bahwa hujan meteor itu dinamai titik radian (asal hujan meteor) yang terletak di konstelasi Perseus.

Hujan meteor dikatakan berasal dari residu debu 109P / Swift-Dutt dan dapat dilihat dari tengah malam hingga fajar / 24 (24 menit sebelum matahari terbit), berakhir pada titik radian 25 derajat utara, 3 derajat.

Sedangkan meteorit mencapai intensitas maksimal 60-70 meteorit dengan kecepatan 212.400 km / jam.

READ  Bintik matahari raksasa ini lebih besar dari Bumi

Baca juga: Lihat bagaimana hujan meteor Perseid pada 12-13 Agustus

6. Hujan meteor Dragonites

Dilaporkan Compass.com, 8 Oktober 2020, Hujan meteor itu dinamai Dragonite berdasarkan asal mula hujan meteor yang terletak di galaksi Tropo, kata Emanuel Chunking, kepala divisi difusi di Laban Space Science Center.

Hujan meteor Dragonites mencapai puncaknya pada 6-10 Oktober dan berakhir pada 8 Oktober.

Hujan meteor Dragonites berasal dari sisa debu komet 21b / Glakopini-Zinner, yang mengorbit Matahari setiap 6,6 tahun sekali. Makanya, hujan meteor yang satu ini disebut juga Gyancopinid.

Menurut beberapa pengamat angkasa, hujan meteor ini tidak menarik untuk disaksikan.

Hal ini dikarenakan intensitas hujan meteor per jam yang sangat rendah dan bervariasi dari satu wilayah ke wilayah lain, dari 4 meteor untuk wilayah Kupang hingga 6 meteor per jam untuk wilayah Banda Aceh.

Meski bisa dilihat atau dilihat dari seluruh Indonesia tanpa perlu bantuan optik, tetap saja tergantung cuaca di sekitar tempat pengamatan.

Deskripsi hujan meteor Gemini. Deskripsi hujan meteor Gemini.

7. Hujan meteor Orinoids

Pada bulan Oktober 2020, terjadi peristiwa hujan meteor, yaitu hujan meteor Orinoid. Compass.com, 20 Oktober 2020, diberitakan bahwa hujan meteor telah aktif sejak 2-7 Oktober. Tapi itu melonjak pada dini hari tanggal 21 Oktober.

Emanuel Chunking, kepala divisi difusi di Laban Space Science Center, mengatakan hujan meteor Orinoids terjadi setiap tahun.

Dia menjelaskan, hujan meteor itu dinamai Orionoid karena titik radiannya (asal) di galaksi Orion. Biasanya, galaksi Orion berada di langit barat.

Menariknya, peristiwa hujan meteor Orion berasal dari debu komet Holly yang mengorbit Matahari setiap 76 tahun sekali.

Wilayah Indonesia dapat melihat hujan meteor Orionit tanpa bantuan perangkat optik atau dengan mata telanjang.

8. Hujan meteor Leonid

Mengutip halaman Delapan, 17 November 2020, astronom amatir Indonesia Marufin Sudipio menamai hujan meteor Leonid karena tampaknya berasal dari sebuah titik di galaksi Leo (singa).

Hujan meteor terjadi pada 6-30 November setiap tahun, dengan kata lain, terjadi sepanjang malam November setiap tahun.

READ  Tanpa ampun, Biden 17 membatalkan tradisi buruk Trump, yang ...

Marufin mengatakan, hujan meteor terkenal karena menciptakan badai meteor dengan intensitas lebih dari 1.000 meteor per jam setiap 33 tahun. Terakhir kali ini terjadi pada November 2001.

Hujan meteor Leonid dapat dilihat dengan mata telanjang. Hujan meteor Leonid ini dapat ditemukan di seluruh Indonesia, langit cerah, tidak ada polusi ringan, dan berada di tempat yang gelap seperti pinggiran kota atau lebih disukai daerah pedesaan.

Pada puncak aktivitasnya, jumlah meteorit Leonid yang masuk ke atmosfer bumi diperkirakan mencapai 500 per jam.

Namun, visibilitas intensitas meteorit yang terlihat di Rhode Island adalah 11 meteor per jam, yaitu sekitar 52 derajat di atas titik radian, dan 14 meteor pada 69 derajat di atas Kendaraan Pulaw.

Baca juga: Daftar peristiwa astronomi minggu ini, puncak hujan meteor Leonid

9. Hujan meteor Gemini

Mulai halaman Delapan, 14 Desember 2020, Hujan meteor Gemini adalah hujan meteor yang titik radian (asal muasalnya) berada di galaksi Gemini.

Laban mengatakan, hujan meteor Gemini berlangsung dari 4 Desember hingga 20 Desember 2020. Sedangkan puncak hujan meteor terjadi pada 13-14 Desember 2020, menurut peneliti Laban Roma Priyatikanto.

Intensitas hujan meteor ini adalah 86-107 meteor per jam di wilayah Indonesia, dengan elevasi titik pancaran bervariasi dari 45 derajat (Rhode Island) hingga 62 derajat (Pulau Weh).

Hujan meteor ini terjadi setiap tahun pada bulan Desember saat Bumi melewati orbit debu dari asteroid 3200 Python.

Hujan meteor Gemini dianggap hujan meteor terbaik setiap tahun karena setiap meteor memiliki kecerahan paling tinggi.

(Sumber: Compass.com/ Noor Fitriados Shaliha, Elevon Pranita, Mela Arnani, Amalia Zahrina | Penulis: Rizal Chettio Nugroho, Pestari Kumla Devi, St. Karthika Narvikathi Sumarthindias, Gloria Chettivani Wingris