Lintasan Program Komite Tari DKJ Tahun 1968-1985

Oleh: Esha Tegar Putra*

Portal Teater – Sebuah dokumen berjumlah 52 halaman mengenai kegiatan Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dari tahun 1968 sampai 1985 memperlihatkan bagaimana DKJ membimbing dengan khidmat salah satu instrumen seni dalam lembaga otonom tersebut.

Dari dokumen itu setidaknya kita dapat melacak beberapa hal mengenai perkembangan dunia tari di Indonesia melalui perspektif program-program DKJ.

Dalam hal ini, katakanlah bagaimana “yang tradisi” saling mengisi dan bersitatap dengan “yang modern”, lantas keduanya beroleh istilah baru dengan sebutan “kontemporer”.

Atau dari perubahan dan pembaruan mengenai konsepsi tari Indonesia kita dapat menghadirkan pertanyaan sederhana: sejak kapan “penata tari” bertukar sebutan dengan “koreografer”?

Pertanyaan sederhana ini mungkin tidak akan dapat dijawab segera.

Tapi dari dokumen yang menghimpun semua kegiatan tari DKJ dalam rentang waktu kurang-lebih 17 tahun usia lembaga ini kita dapat melihat beberapa gejala bersangkutan.

Misalnya, dalam rentang waktu ini masih menggunakan istilah “penata tari” dan tidak kita temui satu pun istilah “koreografer”.

Kegiatan komite tari DKJ sejak 1968-1985 meliputi segala usaha untuk meningkatkan apresiasi terhadap penari, penata tari, publik tari, dan merangsang kreativitas di bidang tari, sehingga dapat melahirkan penata-penata tari baru, dengan menjaga kesinambungan pembinaan tari.

Tujuan lainnya, setidaknya pada periode awal itu, adalah melestarikan kesenian Indonesia khususnya kesenian tradisional yang merupakan khazanah kebudayaan Indonesia.

Berangkat dari tujuan tersebut, Komite Tari DKJ agaknya memang berpegang pada ragam upaya pembinaan, dengan menghadirkan pementasan tari mulai dari senior, pementasan tari remaja, pementasan tari anak-anak, serta untuk bertukar-rasa DKJ berupaya menghadirkan pementasan tari dari berbagai negara sahabat.

Untuk saling mempertemukan antarpenata tari, saling melihat dan bertukar-pandang karya, maka diselenggarakan pekan tari, festival tari, serta lomba-lomba tari, seperti Pekan Tari Daerah, Festival Tari Remaja Antar Grup, Lomba/Festival Tari Anak-Anak, serta Festival Penata Tari Muda.

Untuk melakukan pembacaan terhadap perkembangan tari atau membahas perihal pertunjukan di dalam setiap penyelenggaraan festival dan lomba tersebut maka diimbangi dengan ceramah, diskusi, serta lokakarya.

Pada tahapan ini, seorang pembahas diminta untuk membedah karya tari seusai pertunjukan atau si penata tari diminta untuk mempertanggung-jawabkan karyanya pada publik dengan mengutarakan proses kreatifnya.

Tahapan selanjutnya, Komite Tari DKJ menerbitkan buku-buku tari untuk menambah bahan bacaan.

Dalam penerbitan buku-buku tersebut dihimpun bahan-bahan makalah dari diskusi serta kertas kerja dari ceramah yang pernah diselenggarakan.

Beberapa buku terbitan juga merupakan hasil terjemahan dari buku-buku asing.

Buku-buku tersebut, antara lain: “Segi Kata dari Festival Penata Tari Muda 1979” editor Sal Murgiyanto, “Ungkapan dan Bahasan dari Festival Penata Tari Muda III 1981” editor Sal Murgiyanto, “Seni Menata Tari” terjemahan Sal Murgiyanto dari karangan Doris Humprey (The Art of Making Dances).

Adapula buku “Penata Tari Muda 1983” editor Sal Murgiyanto, “Tari: Tinjauan dari berbagai Segi” editor Edi Sedyawati (Pustaka Jaya, 1984), dan “Penata Tari Muda 1984” editor Sal Murgiyanto.

Kliping Laporan Kegiatan Komite Tari DKJ 1968-1985. -Dok. DKJ.
Kliping Laporan Kegiatan Komite Tari DKJ 1968-1985. -Dok. DKJ.

Pertunjukan Periode Awal

Pada tahun pertama dan kedua berdiri DKJ tak banyak program pertunjukan tari dilaksanakan.

Tahun 1968 hanya tiga pertunjukan tari, dua diantaranya pertunjukan tari tradisi dengan menghadirkan BMP Seni Budaya Sunda melalui tari-tarian Sunda (12 November 1968), Badan Pembina Seni Budaya Batak melalui tari-tarian daerah Tapanuli (17 November 1968,).

Satu lainnya adalah The Indonesian Dance Company yang melakukan lawatan ke Amerika Serikat dengan membawakan tari-tarian nasional.

Tahun 1969 DKJ menghadirkan empat pertunjukan dan mulai menjajal ballet, dua di antaranya pertunjukan ballet Nritrya Sundara pimpinan Farida Oetoyo, dan lainnya pertunjukan Saraswati (pertunjukan “Sita Sayembara”) dan Viatikara yang menyebut pertunjukan mereka sebagai “tari-tarian modern”.

Di dua tahun ini juga beberapa kegiatan digabung dalam Pesta Seni Jakarta I (1968) dan II (1969). Pada Pesta Seni Jakarta II (1-10 November 1969) hadir Farida Oetoyo, Julianti Parani, Huriah Adam, Nanny Lubis yang menampilkan karya-karya mereka.

Tahun 1970-1985, kegiatan Komite Tari DKJ melonjak drastis. Di tahun 1970 diselenggarakan 15 pertunjukan tari dan di tahun 1971 diselenggarakan 31 pertunjukan tari—beberapa di antaranya kegiatan berulang grup yang sama.

Pada 1970 dan 1971, melalui beberapa pertunjukan, kelak para penata tarinya disebut sebagai koreografer dan karya tari mereka digali-korek dalam setiap pembahasan mengenai tari modern Indonesia.

Sebut saja pertunjukan Huriah Adam Dance Grup pimpinan Huriah Adam dengan karya “Sendra Tari Malin Kundang” (31 Januari-1 Februari 1970); Bengkel Kerja Farida Oetoyo dengan karya “Ballet Habis Gelap Terbitlah Terang” (28 April 1970); Sendra Tari karya Bagong Kussudiardja (13-14 Agustus 1970).

Yang lainnya, ada Bengkel Kerja Tari Julianti Parani, Farida Oetoyo, Huriah Adam dengan karya “Modern Choreography, Sketsa-Sketsa Kehidupan, Pola Berirama” (12-13 Januari dan 10-13 Februari 1971); Bengkel Kerja Tari Huriah Adam, Sardono W Kussumo, I Wayan Diya, Farida Oetoyo, dan lain-lain dengan menghadirkan karya “Malin Kundang”, dan seterusnya.

Di tahun-tahun berikutnya terlihat bagaimana Komite Tari DKJ melakukan pembacaan lebih lanjut mengenai program-program mereka, di mana terdapat perimbangan antara “yang tradisi” dan “yang modern”, serta upaya untuk terus melahirkan generasi seniman tari melalui penghadiran festival dan lomba.

Maka dimunculkan Lomba Karya Tari Tingkat Jakarta, Festival Tari Rakyat Festival Tari Pencak Silat (1978), Festival Penata Tari Muda (pertama tahun 1978), Festival Tari Anak-Anak Se-DKI (pertama tahun 1979), Festival Tari Remaja Se-DKI (pertama tahun 1980), Pekan Ballet Antar Grup DKJ (pertama tahun 1982), dll.

Gairah untuk mengupayakan regenerasi ini memang tampak menjadi pemikiran pokok dalam program-program Komite Tari DKJ, dengan mengimbangi bagaimana agar mereka dapat terus berkarya.

Hal tersebut dinyatakan Julianti Parani ketika DKJ mencetuskan ide untuk menyelenggarakan Festival Penata Tari Muda pertama (1978).

Menurutnya, DKJ sebagai pembina kehidupan kesenian pada umumnya di Jakarta, sudah sepatutnya untuk terus memberikan kesempatan pada pemunculan seniman muda yang dapat memberikan jaminan untuk kesinambungan tugas tersebut.

ia menambahkan, selama kurang lebih 10 tahun DKJ berdiri—sampai saat tercetus ide Festival Penata Tari Muda—berbagai festival, pementasan, pertemuan, diskusi dan kegiatan lain telah dilaksanakan untuk melancarkan komunikasi serta membahas dan memecahkan masalah-masalah yang dihadapi kehidupan seni tari.

Kegiatan-kegiatan tersebut diselenggarakan tidak hanya berkaitan dengan seni tari di Jakarta, tapi juga menjalankan fungsi secara nasional dan membawa perkembangan cukup menggembirakan.

Dari kegiatan Festival Penata Tari Muda pertama dan seterusnya publik dapat mengenal lebih jauh karya-karya penata tari generasi selanjutnya setelah Huriah Adam, dkk.

Para pengamat sarasehan Pekan Penata Tari 1983 di Ruang Pameran TIM Farida Feisol, FRans Haryadi, Sal Murgiyanto, Slamet A. -Dok. DKJ.
Para pengamat sarasehan Pekan Penata Tari 1983 di Ruang Pameran TIM Farida Feisol, FRans Haryadi, Sal Murgiyanto, Slamet A. -Dok. DKJ.

Kalkulasi Program

Jika dikalkulasikan dari dokumen berjumlah 52 halaman tersebut maka terhitung program Komite Tari DKJ dari tahun 1968-1985 adalah sebanyak 516 kali pertunjukan.

Jumlah tersebut terdiri dari 148 penyelenggaraan pertunjukan grup senior, 18 grup remaja, 148 grup anak-anak, 38 pertunjukan dari negera-negara sahabat, 126 penyelenggaraan ceramah dan diskusi, 25 kali penyelenggaraan festival dan 13 kali penyelenggaraan lomba.

Sudah tentu dengan dokumen ini kita akan dapat melihat lebih jauh dengan mengkomparasikan dokumen tersebut dengan catatan lain dan memunculkan beragam pertanyaan berkelanjutan: berapakah grup-grup tari tersebut yang bertahan sampai hari ini?

Karya-karya siapa saja yang sampai hari ini menjadi tumpuan kelahiran karya-karya baru?

Perkara atau polemik apa saja pernah terjadi dalam rentang tahun tersebut? dan seterusnya.

Grup-grup Tari yang Pentas Sejak 1968-1985. -Dok. DKJ.
Grup-grup Tari yang Pentas Sejak 1968-1985. -Dok. DKJ.

Anggota Komite Tari 1968-1985

Periode 1968-1971

1. I Wayan Diya
2. B. Suryabrata
3. D. Djajakusuma
4. Sardono W. Kusumo

Periode 1971-1972

1. D. Djajakusuma
2. Edi Sedyawati
3. Swandono
4. Julianti Parani

Periode 1973-1974

1. D. Djajakusuma
2. Edi Sedyawati
3. Swandono
4. Julianti Parani

Periode 1975-1977

1. D. Djajakusuma
2. Edi Sedyawati
3. Swandono
4. Julianti Parani

Periode 1977-1979

1. Sal Murgiyanto
2. I Wayan Diya
3. Satyagraha Hoerip
4. Julianti Parani
5. Singgih Wibisono

Periode 1979-1981

1. Sal Murgiyanto
2. I Wayan Diya
3. Satyagraha Hoerip
4. Julianti Parani
5. Singgih Wibisono

Periode 1982-1985

1. Sal Murgiyanto
2. Singgih Wibisono
3. Farida Feisol
4. A.S. Pradjakusumah (meninggal dunia 1985)
5. T. Nazly A. Mansur (tidak pernah aktif sejak dilantik karena sakit dan meninggal dunia lalu digantikan Edi Sedyawati sejak Agustus 1984)

Periode 1985-1988

1. Farida Feisol
2. Edi Sedyawati
3. Elly Pasha Duyeh
4. Wiwiek Widyastuti
5. Soemardjo H.
6. Rukasah SW

*Esha Tegar Putra adalah penyair muda Indonesia kelahiran Solok, Sumatra Barat, 29 April 1985. Aktif menulis puisi untuk rubrik sastra di Koran Tempo dan Kompas. Buku puisi terakhirnya dirilis awal tahun ini berjudul “Setelah Gelanggang Itu” (2020). Ia juga dikenal sebagai penulis dan penikmat seni.

Baca Juga

Menolak Mati Konyol di Era Konyol

Portal Teater - Uang, teknologi, status sosial, jabatan, pangkat, citra, dan popularitas, barangkali adalah serangkaian idiom yang menghiasi wajah kehidupan manusia hari ini. Menjadi...

Rudolf Puspa: Kiat Terus Berkiprah

Portal Teater - Sebuah catatan sekaligus menjawab pertanyaan seorang ibu, guru Bahasa Indonesia di sebuah SMA di Jakarta, membuat saya segera membuka tembang lama...

“Mati Konyol”: Paradoks, Retrospeksi, Kegamangan

Portal Teater - Pintu rekreatif tulisan ini dibuka dengan pertanyaan dari seorang awam, tentang apa uraian dramaturgi, dramaturg, dan drama. Bagaimana ciri, konvensi, guna,...

Terkini

Rudolf Puspa: Kiat Terus Berkiprah

Portal Teater - Sebuah catatan sekaligus menjawab pertanyaan seorang ibu, guru Bahasa Indonesia di sebuah SMA di Jakarta, membuat saya segera membuka tembang lama...

“Mati Konyol”: Paradoks, Retrospeksi, Kegamangan

Portal Teater - Pintu rekreatif tulisan ini dibuka dengan pertanyaan dari seorang awam, tentang apa uraian dramaturgi, dramaturg, dan drama. Bagaimana ciri, konvensi, guna,...

Menolak Mati Konyol di Era Konyol

Portal Teater - Uang, teknologi, status sosial, jabatan, pangkat, citra, dan popularitas, barangkali adalah serangkaian idiom yang menghiasi wajah kehidupan manusia hari ini. Menjadi...

Buntut Corona, FDPS 2020 Disajikan dalam Format Digital

Portal Teater - Festival Drama Pendek SLTA (FDPS) 2020 yang digagas Kelompok Pojok direncanakan diadakan pada April kemarin. Buntut pandemi virus corona merebak di Indonesia...

Seni Berkekuatan Daya Getar

Portal Teater - Seni adalah kekuatan yang memiliki daya getar. Bertahun-tahun aku dibimbing pelukis Nashar untuk mempelajari kesenian tanpa ingat waktu, lapar dan kemiskinan. Aku...